Untuk Apa Manusia Hidup ? Pertanyaan Mudah Yang Susah Dijawab

Salah satu inti ajaran Islam adalah membimbing manusia menemukan tujuan hidup yang sebenarnya. Islam mengajak manusia untuk merenungi satu pertanyaan yang paling mendasar bagi setiap orang, yaitu untuk apa manusia hidup di dunia ini. Pertanyaan ini tentu memerlukan sebuah jawaban yang tepat. Karena jika manusia tidak tepat dalam menjawabnya, maka manusia akan gagal dalam hidupnya. Jika manusia gagal dalam hidupnya di dunia maka manusia juga akan gagal di akhirat kelak.

Bagaimanakah cara manusia menjawab pertanyaan itu? Ada sebagian orang yang mencari jawabannya dengan semata-mata mengandalkan akal. Ternyata hasilnya, tiap-tiap orang memiliki pendapat yang berbeda-beda. Ada yang berpendapat hidup ini untuk mencari kekekayaan dan kesejahteraan hidup, ada yang berpendapat hidup ini untuk mencari kekuasaan dan keunggulan atas manusia yang lain, ada yang berpendapat hidup ini untuk membangun peradaban yang maju, ada juga yang berpendapat hidup ini untuk mencari berbagai kesenangan dan kenikmatan.

Dan masih banyak lagi berbagai pendapat lain, sesuai hasil pemikiran masing-masing. Kalau kita perhatikan, pertanyaan di atas sebenarnya cukup sederhana namun ternyata sulit menjawabnya. Bukan saja akal manusia tidak mampu menjawabnya, bahkan jika ditanyakan kepada banyak orang maka muncul perbedaan pendapat. Rupanya akal manusia memiliki kelemahan, tidak semua hal dapat dipikirkannya. Hal-hal yang ghaib, akhirat, syurga, neraka dan lain sebagainya, akal tidak dapat menjangkaunya sekalipun manusia itu pintar dan kuat akalnya.

Bagaimana dengan kita? Kita sebagai orang Islam memiliki panduan hidup yang diberikan Allah kepada kita, yaitu petunjuk Allah di dalam Al Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Jadi, kita sebenarnya tidak perlu menebak-nebak dan meraba-raba lagi, tidak perlu sampai letih akal kita mencari jawabannya. Lebih baik kita bersandar dengan yang telah Allah berikan kepada kita. Itulah jawaban yang tepat menurut Al Quran dan itulah yang patut menjadi pegangan kita, yang menjadi keyakinan kita, serta amalan perjuangan kita, agar kita mendapat keselamatan. Di dalam Al Quran disebutkan bahwa sesungguhnya yang benar itu datang dari Allah. Karena itu kita terima sajalah jawaban dari Allah. Semoga dengan begitu kita selamat di dunia dan akhirat.

Lalu, apa jawaban Allah atas pertanyaan kita itu. Ternyata Allah telah memberikan jawaban kepada kita, yaitu:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah (beribadah) kepada-Ku.” (QS Adz Dzaariat 56)

Ayat tersebut mengatakan kepada kita bahwa Allah menciptakan kita untuk beribadah atau mengabdikan diri kepada-Nya. Dengan kata lain kita diciptakan untuk tunduk dan patuh kepada perintah Allah. Maka dengan ayat tersebut maka kita memiliki dalil dan argumentasi yang kuat. Bahkan jika ditinjau secara logika akal maupun secara psikologis, akal kita menerima bahwa sudah selayaknya manusia menyembah Allah yang telah menciptakannya dan hati kecil kita pun setuju untuk menyembah Allah.

Selain dengan dalil ayat suci Al Quran, kita juga dapat membuktikan dengan mudah bahwa akal dan hati kita setuju untuk menyembah Allah. Sebagai contoh, bagaimanakah perasaan kita jika ada orang yang memanggil kita dengan sebutan hamba Allah? Tentu kita tidak akan menolaknya bahkan kita merasa senang. Akal kita menerimanya dan hati kita menyetujuinya. Bahkan kalaupun kita bukan seorang hamba Allah yang patuh dan taat kepada Allah, kita tetap merasa senang dan terhiburdengan sebutan itu.

Mengapa begitu? Karena memang Allah telah menjadikan kita untuk menjadi hamba-Nya. Apa yang disetujui oleh Allah, disetujui juga oleh akal dan hati kita. Dan apa yang disetujui oleh akal dan hati kita, disetujui juga oleh Allah.

Sebaliknya, bagaimanakah perasaan kita jika ada orang yang memanggil kita dengan sebutan hamba dunia, hamba harta atau hamba nafsu? Akal dan hati kita tidak setuju kita dikatakan begitu. Bukan hanya tidak setuju bahkan hati kita terasa sakit. Jika seseorang yang sedang sakit dituduh-tuduh mejadi hamba selain Allah mungkin dia akan meninggal seketika.

Begitulah, apa yang tidak disetujui oleh Allah juga tidak disetujui oleh akal dan nafsu. Dan sebaliknya, apa yang tidak disetujui akal dan hati, Allah juga tidak menyetujuinya.

Karena itu, mau tidak mau kita harus menyembah Allah. Allah setuju, akal setuju dan hati setuju. Jadi kalau manusia tidak mau menyembah Allah, tidak mau mengabdikan diri kepada Allah, tidak mau tunduk dan patuh kepada Allah, dia bukan saja menentang Allah, bahkan menentang akal dan hatinya. Pada hakekatnya menusia menentang dirinya sendiri. Kalau seseorang menentang dirinya sendiri, maka dia tidak akan medapatkan kebahagiaan dalam hidupnya. Walaupun seseorang itu memiliki pangkat dan jabatan yang tinggi, rumah yang mewah dan harta kekayaan yang melimpah.

Buktinya banyak. Kita saksikan di saat ini, bangsa-bangsa yang dikagumi karena kemajuan mereka di bidang ekonomi dan pembangunan, juga terdapat banyak orang terkenal, tapi banyak sekali penduduknya yang mati bunuh diri kareka mereka sudah kehilangan kebahagiaan. Kebanyakan mereka orang yang terkenal tapi hidupnya frustasi.

Mengapa demikian? Karena mereka sama sekali tak mengenal Allah, tidak mau menyembah Allah. Mereka menentang dirinya sendiri sehingga akibatnya mereka tidak mendapatkan kebahagiaan. Karena itu kita harus mengenal dan menyembah Allah, agar kita selamat di dunia dan akhirat.

Mungkin hati kecil kita akan bertanya-tanya, “Jika benar manusia itu sudah selayaknya menyembah Allah, mengapa perasaan hati kita sendiri selama ini tidak mengajak atau mengingatkan kita agar menyembah Allah?”

Kita juga merasa susah untuk taat kepada Allah. Hal itu disebabkan karena di dalam diri manusia ada dua musuh batin yang senantiasa mempengaruhi hati dan akal manusia. Kedua musuh batin itu adalah syaitan dan hawa nafsu yang selalu menggoda manusia dan membawa manusia pada jalan kesesatan.

Di dalam Al Quran disebutkan :

“Sesungguhnya syaitan adalah musuh yang sangat nyata” (QS Al Baqarah 208 )

Dan tentang nafsu, Allah juga berfirman :

“Sesungguhnya nafsu itu selalu mengajak manusia pada kejahatan” (QS Yusuf 52)

Karena dalam diri manusia itu ada dua musuh batin maka hati manusia menjadi lalai dan durhaka kepada Allah. Kalau syaitan dan hawa nafsu tidak ada tentu manusia akan mengenal Allah, cinta dengan Allah, bahkan tenggelam dalam kecintaan kepada Allah karena fitrah manusia telah mengenal Allah sejak sebelum ditiupkannya ruh dan mengetahui bahwa Allah saja yang patut disembah dan diagungkan.

Lalu dengan cara bagaimanakah kita menyembah Allah? Cara menyembah Allah atau beribadah kepada Allah ada tiga bagian, yaitu:

1.Ibadah yang asas: Mempelajari, memahami, meyakini Rukun Iman, serta mempelajari, memahami dan melaksanakan Rukun Islam, yaitu Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat, dan Haji bagi yang mampu.

2.Ibadah Fadhailul ‘Amal: Amalan-amalan yang utama seperti puasa Senin Kamis, sholat Tahajud, shalat sunat Rawatib, membaca tasbih, tahmid, tahlil, membaca Shalawat Nabi, dll.

3.Ibadah yang umum: Ibadah yang lebih luas, seluas dunia, yaitu hal-hal mubah (boleh) yang dapat dijadikan amal ibadah jika memenuhi lima syarat :

a. Niat yang benar yaitu karena Alah.
b. Perkara yang kita lakukan dibenarkan oleh syariat
c. Pelaksanaannya juga sesuai dengan syariat
d. Hasil yang diperoleh dipergunakan sesuai syariat
e. Jangan sampai meninggalkan ibadah yang asas

Advertisements

DO’A SETELAH SHOLAT

DO’A SETELAH SHOLAT

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرِّحِيْمِ.

لْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِىْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ

A`uudzu billaahi minasy-syaithaanir-rajiim. Bismillaahirrahmaanir-rahiim. 
Al-hamdu lillaahi rabbil`aalamiin, hamdayyuwaafii ni’amahu wa yukaafii maziidah.

يَارَبَّنَالَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِىْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ

Yaa rabbanaa lakal-hamdu kamaa yambaghii li jalaali wajhikal-kariimi wa `azhiimi sulthaanik.

اَللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Allaahumma shalli `alaa sayyidinaa Muhammadiw wa`alaa aali sayyidinaa Muhammad.

اَللهم رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّاصَلاَ تَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا

وَتَهْلِيْلَنَا وَتَصْبِيْحَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَخُشُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَااَللهُ ياَ اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Alloohumma robbanaa taqobbal minnaa sholaatanaa washiyaamanaa waqiyaamanaawarukuu’anaa wasujuudanaa watahliilanaa watashbiihanaa watadhorru’anaa watakhasy-syu’anaa wata’abbudanaa watammim taqshiironaa yaa Alloohu yaa arhamar roohimiin.

   اَللهم اَعِنَّا عَلىٰ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Alloohumma a’inna ‘alaa dzikrika wasyukrika wahusni ‘ibaadatik.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

Robbanaa dzolamnaa anfusanaa wa-in lam taghfirlanaa watarhamnaa lanakuunanna minal khoosiriin

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ

رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ

رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ

أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Rabbanaa laa tu’aakhidznaa in nasiinaa au akhtha’naa. Rabbanaa wa laa tahmil ‘alainaa ishran kamaa hamaltahu ‘alalladziina min qablinaa. Rabbanaa wa laa tuhammillnaa maa laa thaaqata lanaabih. wa’fu’anna waghfirlanaa warhamnaa anta maulaanaa fanshurnaa ‘alalqoumil kaafiriin”

اَللهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ سَلاَمَةً فِى الدِّيْنِ  وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ

 وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ

وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ.

اَللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِىْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ

Alloohumma innaa nas-aluka salaamatan fiddin. Wa ‘’aafiyatan fil jasadi, waziyaadatan fil ‘ilmi, wabarokatan fir rizki, wataubatan qoblal maut, warohmatan ‘indal maut, wamaghfirotan ba’dal maut. Alloohumma hauwwin ‘alainaa fii sakaroo til maut, wannajaata minan naar, wal ‘afwa ‘indal hisaab.

اَللهُمَّ اِنَّا نَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ 

Allaahumma innaa na’uudzu bika minal ‘ajzi wal kasali wal bukhli wal harami wa ‘adzaabil qabri.

 اَللهُمَّ اِنَّا نَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَيَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَيَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَتَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَيُسْتَجَابُ لَهَا

Allaahummainnaa na’uudzu bika min ‘ilmin laa yanfa’ w amin qalbin laa yakhsya’ w amin nafsin laa tasyba’ wamin da’watin laa yustajaabu lahaa.

 رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذَ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةَ إِنَّكَ أَنَّتَ اْلوَهَّابْ

Robbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wahab lanaa min ladunka rohmah innaka antal wahhaab

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

اْلاَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Rabbanaghfir lanaa wa li waalidiinaa wa li jamii’il-mus¬limiina wal-muslimaati wal-mu’miniina wal-mu’minaati al ahyaa’i minhum wal-amwaat, innaka `ataa kulli syai’in qadiir

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Rabbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrata a`yuniw waj’alnaa lil-muttaqiina imaamaa

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ 

Rabbanaa taqabbal minnaa innaka antas samii’ul ‘aliim, wa tub ‘alainaa innaka antat ta wwa abur rahiim.

رَبَّنَا أَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Robbanaa aatinaa fiddunyaa hasanatan wafil aakhiroti hasanatan waqinaa ‘adzaa bannaar

 اَللهم اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّأَ تِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ

Allaahummaghfir lanaa dzunuubanaa wa kaffir `annaa sayyi’aatinaa wa tawaffanaa ma’al-abraar

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Rabbij’alnii muqiimash-shalaati wa min dzurriyyatii rabbanaa wa taqabbal du’aa.

وَاَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ اْلاَبْرَارِ. يَا عَزِيْزُ يَا غَفَّارُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Wa-adkhilnal jannata ma’al abroori, yaa ‘aziiz yaa ghoffaar yaa robbal ‘aalamiin

 وَصَلَّى اللهُ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Washallallaahu ‘alaa sayyidinaa muhamma-din wa’alaa aalihiwa shahbihiiwa sallam.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ

Subhaana robbika robbil ‘izzati ‘ammaa yashifuun wasalaamun ‘alal mursalinn wal hamdulillaahi robbil ‘aalamiin.

 

 

Karena Perempuan Terkadang Lupa Betapa Berharga Dirinya

 

Tiap melihat cover laman facebook diri sendiri, selalu ada bunga-bunga perasaan indah yang melintas kemudian semakin merekah. Sebuah mimpi yang terlalu indah untuk dibayangkan dan terlalu berkah untuk dimasuki. Sebuah keluarga yang beralaskan Islam, berdindingkan keimanan dan beratapkan keridhoan langit. Didalamnya selalu dibacakan kalam illahi Rabbi, didirikannya sunnah Rasulullah SAW, dan diliputi kecintaan karena Allah semata. Masha Allah. Benar-benar layaknya surga dunia.

Lalu kemudian aku bercermin, layak kah seorang perempuan seperti diriku mendapatkan itu semua? Namun tak ada jawaban layak atau tidak dari pantulan cermin itu, ia hanya tersenyum dengan wajah sendu dan mengatakan, “Kalau sekarang engkau merasa tak layak, maka buatlah dirimu layak mendapatkannya, karena engkau seorang perempuan.” Aku cermati benar-benar kalimat darinya, kemudian aku ikrarkan dalam hati, “Ya benar, aku harus membuat diriku layak, karena aku seorang perempuan!”

Saudariku tercinta, aku pernah membaca sebuah tweet yang mengutip pembicaraan antara malaikat dan Allah. Namun kekuatan sanadnya tidak disebutkan secara jelas. Suatu waktu malaikat bertanya, “Apa kekurangan wanita?” Lalu Allah menjawab, “Hanya satu hal, wanita terkadang lupa betapa berharga dirinya.” Wallahualam. Namun terlepas dari kekuatan sanad dari percakapan ini, marilah kita garis bawahi pernyataan, ‘Wanita terkadang lupa betapa berharga dirinya’ serta ucapanku yang mengatakan ‘Karena aku seorang perempuan!’. Beberapa menit kedepan aku akan berusaha membuka sedikit kesadaran kita semua sebagai seorang perempuan tentang betapa besarnya andil kita di dalam dunia dan betapa seringnya kita melalaikan kemuliaan luar biasa yang Allah sematkan ke hidup dan kehidupan kita.

Sebelumnya, marilah kita lihat gambar dibawah ini, yang akan mewakili seluruh rentetan tulisan ku nantinya.

 

Jika sulit membaca karena resolusinya yang kecil, akan aku kutip pernyataan dalam gambar tersebut :

When she is a DAUGHTER she opens a door of Jannah for her father, when she is a WIFE she completes half of Islam with her husband, when she is a MOTHER Jannah lies under her feet. If everyone knew the true status of a muslim women. Even the men would want to be women. (Syakh Akram Nadawi)

Ukhti fillah, begitulah mulianya seorang perempuan di mata Islam. Mari kita merenungkan bersama perjalanan hidup kita selama ini. Dimulai dengan istighfar, dan kelapangan hati untuk bermuhasabah diri.

Bismillahirahmanirahim, pernahkah kita membayangkan, saat ibu kita mengetahui bahwa ia sedang mengandung. Lalu betapa bahagianya Ayah kita membayangkan sebentar lagi ia akan memiliki seorang anak. Ayah kita bekerja lebih keras lagi untuk memenuhi kebutuhan ibu baik itu nutrisi selama mengandung, persalinan, hingga asupan yang bergizi saat kita lahir nantinya. Ntah sudah berapa banyak tetes susu yang ibu kita curahkan untuk kita, ntah sudah berapa banyak tetes keringat yang Ayah kita tumpahkan demi kelayakan hidup kita. Siang malam, Ayah dan Ibu kita berusaha memberikan yang terbaik untuk gadis kecilnya. Tak ingin ada seekor nyamukpun yang menghisap darahnya. Tak ingin ada tangisan sedikitpun yang menghampiri putrinya.

Ingatkah saat Ayah dan Ibu memeluk dan mencium kita lalu mengatakan, “Anak perempuan Ayah dan Ibu sudah semakin besar sekarang.” Betapa bahagianya mereka saat membanggakan gadis kecil perempuannya yang tumbuh besar kepada para kerabat. Tahukah kalian bahwa dengan lahirnya kita, berada ditengah-tengah mereka lalu diasuh dengan baik, Allah telah membukakan pintu surga untuk beliau berdua? Kebaikan yang kita lakukan, buah pendidikan dari mereka, insyaAllah akan terus mengalir hingga hari akhir nanti sebagai bentuk amal jariyah mereka.

Namun, semakin kita tumbuh besar, seolah kita semakin jauh satu sama lain. Kita menemukan orang-orang lain diluar sana yang mampu memenuhi kebutuhan kita. Teman-teman, hingga seorang kekasih. Lalu kemaksiatan mulai menghampiri kita, berkumpul disana-sini bersama teman-teman untuk hal keduniawian sesaat, atau menjalin hubungan tak halal dengan lawan jenis. Semua kita lakukan dengan kesadaran penuh bahkan kita menyebutnya ‘kebahagiaan’. Kita merelakan waktu mendengar keluh kesah teman kita setiap hari, menyiapkan kejutan saat ulang tahunnya, namun sudah banyakkah waktu yang kita luangkan untuk orangtua kita?

Menurut Imam Ibnu al-Jauzi, “Kecintaan, kasih sayang, dan ketertarikan terhadap sesuatu yang indah dan memiliki kecocokan tidaklah merupakan hal yang tercela serta tak perlu dibuang. Namun, cinta yang melewati batas ketertarikan dan kecintaan, maka ia akan menguasai akal dan membelokkan pemiliknya kepada hal yang tidak sesuai dengan hikmah yang sesungguhnya, hal seperti inilah yang tercela.”

Kita menjadi perempuan yang sangat mudah berkata cinta dan sayang pada lawan jenis atau memohon maaf saat melakukan kesalahan, lalu apakah pernah kita mengucapkan, “Ayah, Ibu, aku sangat mencintai kalian, maafkan kesalahan anak perempuanmu ini, kalian telah berhasil menjadi orangtua yang luar biasa untukku anakmu.” Pernahkah kita mengatakannya?

Kita menjadi sangat berbangga diri saat berhasil mengurangi beban teman kita, saat mendapatkan cinta dari pasangan yang tak halal. Namun orangtua kita yang belasan tahun mengasuh kita tanpa mengeluh, kita kesampingkan begitu saja. Masha Allah. Lalu bagaimana jika kita anak perempuannya yang dari lahir dijaga sebaik-baiknya, malah merelakan diri untuk nikmat duniawi yang sesaat? Bagaimana mungkin kita membiarkan diri masuk dalam pergaulan pertemanan yang lebih banyak mudharatnya bahkan membiarkan para laki-laki bukan mahram mengikis kemuliaan yang telah dijaga mati-matian oleh Ayah dan Ibu kita? ‘When she is a DAUGHTER she opens a door of Jannah for her father’, lalu jika yang kita lakukan adalah kebalikannya. Relakah kita membukakan pintu neraka untuk mereka? Astaghfirullah.

Kemudian saat usia kita telah mencapai tingkat kematangan, kita akan dipertemukan dengan seorang pasangan hidup. Dan sungguh, pernikahan itu adalah sebuah ibadah yang menyempurnakan setengah agama. Ini adalah poin kedua dari seorang perempuan, ‘When she is a WIFE she completes half of Islam with her husband’. Dan saat kita memiliki anak nantinya, kita menyempurnakan tugas kita di dunia sebagai seorang perempuan, ‘When she is a MOTHER Jannah lies under her feet’.

Tapi semua itu tak berlangsung serta merta layaknya membalikkan telapak tangan. Semuanya adalah suatu proses yang berat, berliku dan panjang. Aku sangat suka menyebutnya dengan sebutan ‘investasi dunia akhirat’. Bagaimana tidak? Usia kita sebagai seorang manusia terlalu singkat untuk menandingi amal ibadah para pendahulu kita, para ahli ibadah. Bagaimana mungkin bermimpi mampu bertemu Rasulullah jika saat di dunia kita terlena dan mengambil segala kenikmatannya yang haram?

Duhai ukhti, investasikan peran yang Allah berikan pada kita para perempuan. Lahirkan para generasi dakwah dari rahim kita. Lupakan seluruh kenikmatan duniawi sesaat yang iblis janjikan pada kita. Bukakan pintu-pintu surga untuk kedua orangtua kita. Pantaskan diri untuk mendapatkan seorang imam keluarga yang mampu membimbing kita agar semakin cinta pada Allah. Karena bagaimana mungkin bermimpi melahirkan generasi penerus dakwah, jika dia yang membuahi ovum kita adalah seseorang yang sangat jauh dari Allah dan Rasul-Nya? Bukan karena ketampanan, harta, kedudukan atau apapun itu yang membuat kita dan anak-anak kita nantinya dijamin di akhirat, hanyalah ketaatan yang menjadi jaminan.

Ingatkah kita bahwa pernikahan adalah suatu ibadah yang menyempurnakan separuh agama? Lalu bagaimana mungkin kita melakukan suatu ibadah yang diawali dengan maksiat? Pacaran itu maksiat duhai ukhti. Bagaimana mungkin kita mengimpikan pasangan yang taat beragama tapi dia menghalalkan kemaksiatan?

Mari kita membangun suatu estafet surga. Sadarkan diri kita bahwa kini surga berada dibawah telapak kaki ibunda kita tercinta, lalu satu hari nanti, kita akan mendapat kemuliaan dengan dijadikannya surga dibawah kaki kita. Subhanallah.

Mari kita lahirkan para penghafal Quran, lahirkan para mujahid dakwah, penuhi hak-hak anak-anak kita nantinya untuk diimami oleh seorang Ayah yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya satu-satunya sumber kebenaran. Segala kebaikan yang akan dilakukan oleh anak cucu kita hingga hari akhir nanti insyaAllah akan terus mengalir sebagai bentuk amal jariyah. Inilah hakikat investasi dunia akhirat yang aku maksudkan.

Lalu di akhirat nanti, kita akan dikumpulkan bersama orang-orang yang kita cintai. Bersama anak cucu kita yang bertakwa, insyaAllah. Dan semua ini sedang berada di tanganmu para akhwat shalihah. Karena kita perempuan! Bahkan jika kita di surga nanti, kita dapat mengatakan pada para bidadari, “Kami lebih luar biasa dari kalian, kami telah membukakan pintu surga untuk orangtua kami, kami telah menyempurnakan setengah agama bersama suami kami, kami telah mengandung, kami telah meregang nyawa saat melahirkan, kami telah mencurahkan air susu kami untuk para calon pemimpin Islam, kami telah bersusah payah mendidik anak cucu kami demi agama Allah ini bahkan surga dibiarkan Allah berada di bawah kaki kami.”

Ingatlah ikhwan wa akhwat fillah, seperti kutipan pesan yang disampaikan oleh Ustadz Amirudin di buku ‘Apa kata dunia jika akhwat jatuh cinta?’ karya Muhsin Suny M.

Beliau mengatakan :

“Untuk ikhwan, bila kamu istiqomah di jalan dakwah ini, bidadari telah menanti kamu di surga nanti. Dan untuk akhwat, bila kamu istiqomah di jalan dakwah ini, kamu akan lebih baik dari bidadari yang terbaik yang ada di surga.”

Baiklah, semoga para pembaca dapat merenungkan pesan luar biasa yang beliau sampaikan. Dan seperti biasa penulis akan menutup tulisan ini dengan sebuah doa. Namun untuk tulisan kali ini, doa sengaja dikutip dari sebuah Puisi Sayyid Qutub untuk para pembaca yang mengimpikan mengarungi samudra cinta berperahukan asma Allah SWT dan sunnah Rasul-Nya :

“Ya Allah, jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu, agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu. Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu. Ya Allah, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu, agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu. Ya Rabbana, jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling dari-Mu. Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu. Ya Allah, jika aku rindu, jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindui surga-Mu. Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhir-Mu. Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu, jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu. Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu, jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu. Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah  pada-Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu. Kukuhkanlah ya Allah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan Nur-Mu yang tiada pernah padam. Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu. Amin amin ya Rabbal’alamin.”

Download MP3 Murottal Al Qur’an Syaikh Misyari Rasyid Alafasy 30 Juz

Assalamu’alaykum WaRahmatulLahi waBarakaatuh, -Alhamdulillah Pada kesempatan kali ini saya membagikan postingan tentang Download MP3  Murottal Al-Qur’an 30 Juz Oleh Syaikh Mishari Rashid Alafasy, Semoga bermanfaat. Bagi yang ingin mendownload, langsung saja klik linknya.

Surah No. Surah Name   Download MP3
1 Al-Fatihah Download
2 Al-Baqarah Download
3 Al-Imran Download
4 An-Nisa’ Download
5 Al-Ma’idah Download
6 Al-An’am Download
7 Al-A’raf Download
8 Al-Anfal Download
9 At-Taubah Download
10 Yunus Download
11 Hood Download
12 Yusuf Download
13 Ar-Ra’d Download
14 Ibrahim Download
15 Al-Hijr Download
16 An-Nahl Download
17 Al-Isra Download
18 Al-Kahf Download
19 Maryam Download
20 Ta­Ha Download
21 Al-Anbiya’ Download
22 Al-Hajj Download
23 Al-Mu’minun Download
24 An-Nur Download
25 Al-Furqan Download
26 Ash-Shu’ara’ Download
27 An-Naml Download
28 Al-Qasas Download
29 Al-‘Ankabut Download
30 Ar­Room Download
31 Luqman Download
32 As­Sajdah Download
33 Al­Ahzab Download
34 Saba’ Download
35 Fatir Download
36 Ya­Sin Download
37 As-Saffat Download
38 Sad Download
39 Az-Zumar Download
40 Ghafir Download
41 Fussilat Download
42 Ash-Shura Download
43 Az-Zukhruf Download
44 Ad-Dukhan Download
45 Al-Jathiya Download
46 Al-Ahqaf Download
47 Muhammad Download
48 Al-Fath Download
49 Al-Hujurat Download
50 Qaf Download
51 Az-Zariyat Download
52 At-Tur Download
53 An-Najm Download
54 Al-Qamar Download
55 Ar-Rahman Download
56 Al-Waqi’ah Download
57 Al-Hadid Download
58 Al-Mujadilah Download
59 Al-Hashr Download
60 Al-Mumtahinah Download
61 As-Saff Download
62 Al-Jumu’ah Download
63 Al-Munafiqun Download
64 At-Taghabun Download
65 At-Talaq Download
66 At-Tahrim Download
67 Al-Mulk Download
68 Al-Qalam Download
69 Al-Haqqah Download
70 Al-Ma’arij Download
71 Nooh Download
72 Al-Jinn Download
73 Al-Muzzammil Download
74 Al-Muddaththir Download
75 Al-Qiyamah Download
76 Al-Insan Download
77 Al-Mursalat Download
78 An-Naba’ Download
79 An-Nazi’at Download
80 ‘Abasa Download
81 At-Takwir Download
82 Al-Infitar Download
83 Al-Mutaffifin Download
84 Al-Inshiqaq Download
85 Al-Buruj Download
86 At-Tariq Download
87 Al-A’la Download
88 Al-Ghashiyah Download
89 Al-Fajr Download
90 Al-Balad Download
91 Ash-Shams Download
92 Al-Lail Download
93 Ad-Duha Download
94 Ash-Sharh Download
95 At-Tin Download
96 Al-‘Alaq Download
97 Al-Qadr Download
98 Al-Baiyinah Download
99 Az-Zalzalah Download
100 Al-‘Adiyat Download
101 Al-Qari’ah Download
102 At-Takathur Download
103 Al-‘Asr Download
104 Al-Humazah Download
105 Al-Fil Download
106 Quraish Download
107 Al-Ma’un Download
108 Al-Kauthar Download
109 Al-Kafirun Download
110 An-Nasr Download
111 Al-Lahab Download
112 Al-Ikhlas Download
113 Al-Falaq Download
114 An-Nas Download

Download MP3 Murottal Al-Qur’an Syekh Sa’ad Al-Ghomidi (Lengkap 30 Juz)

Suaranya Sunhanallah, sejuk, damai dan menenangkan

حمدا وشكرا لله ،، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ،، أما بعد

Download MP3 Murottal Al-Qur’an Syekh Sa’ad Al-Ghomidi (Lengkap 30 Juz)


* Bagi saudara Muslim yang hobi mendengarkan Murottal Al-Qur’an, tentunya tidak asing lagi dengan bacaan Syekh Sa’ad Al-Ghomidi. Untuk Anda yang tidak punya mp3 audionya, kami menyediakannya untuk Anda. Silahkan download mp3 Murottal Syekh Sa’ad Al-Ghomidi dibawah ini:


1. Surat Al-Fatihah
2. Surat Al-Baqoroh
3. Surat Ali Imron
4. Surat An-Nisa’
5. Surat Al-Ma’idah
6. Surat Al-An’am
7. Surat Al-A’rof
8. Surat Al-Anfal
9. Surat At-Taubah
10. Surat Yunus
11. Surat Hud
12. Surat Yusuf
13. Surat Ar-Ro’d
14. Surat Ibrohim
15. Surat Al-Hijr
16. Surat An-Nahl
17. Surat Al-Isro’
18. Surat Al-Kahfi
19. Surat Maryam
20. Surat Thoha
21. Surat Al-Anbiya’
22. Surat Al-Hajj
23. Surat Al-Mu’minun
24. Surat An-Nur
25. Surat Al-Furqon
26. Surat Asy-Syu’aro
27. Surat An-Naml
28. Surat Al-Qoshosh
29. Surat Al-‘Ankabut
30. Surat Ar-Ruum
31. Surat Luqman
32. Surat As-Sajdah
33. Surat Al-Ahzab
34. Surat Saba’
35. Surat Fathir
36. Surat Yasin
37. Surat Ash-Shoffat
38. Surat Shod
39. Surat Az-Zumar
40. Surat Al-Mu’min
41. Surat Fushilat
42. Surat Asy-Syura
43. Surat Az-Zukhruf
44. Surat Ad-Dukhon
45. Surat Al-Jatsiyah
46. Surat Al-Ahqof
47. Surat Muhammad
48. Surat Al-Fath
49. Surat Al-Hujurot
50. Surat Qof
51. Surat Adz-Dzariyat
52. Surat Ath-Thur
53. Surat An-Najm
54. Surat Al-Qomar
55. Surat Ar-Rohman
56. Surat Al-Waqi’ah
57. Surat Al-Hadid
58. Surat Al-Mujadilah
59. Surat Al-Hasyr
60. Surat Al-Mumtahanah
61. Surat Ash-Shoff
62. Surat Al-Jumu’ah
63. Surat Al-Munafiqun
64. Surat At-Taghobun
65. Surat Ath-Tholaq
66. Surat At-Tahrim
67. Surat Al-Mulk
68. Surat Al-Qolam
69. Surat Al-Haqqoh
70. Surat Al-Ma’arij
71. Surat Nuh
72. Surat Al-Jin
73. Surat Al-Muzzammil
74. Surat Al-Mudatsir
75. Surat Al-Qiyamah
76. Surat Al-Insan
77. Surat Al-Mursalat
78. Surat An-Naba’
79. Surat An-Nazi’at
80. Surat ‘Abasa
81. Surat At-Takwir
82. Surat Al-Infithor
83. Surat Al-Muthoffifin
84. Surat Al-Insyiqoq
85. Surat Al-Buruj
86. Surat At-Thoriq
87. Surat Al-A’la
88. Surat Al-Ghosyiyah
89. Surat Al-Fajr
90. Surat Al-Balad
91. Surat Asy-Syams
92. Surat Al-Lail
93. Surat Adh-Dhuha
94. Surat Alam Nasyroh
95. Surat At-Tiin
96. Surat Al-‘Alaq
97. Surat Al-Qodr
98. Surat Al-Bayyinah
99. Surat Az-Zalzalah
100. Surat Al-‘Adiyat
101. Surat Al-Qori’ah
102. Surat At-Takatsur
103. Surat Al-‘Ashr
104. Surat Al-Humazah
105. Surat Al-Fiil
106. Surat Quraisy
107. Surat Al-Ma’un
108. Surat Al-Kautsar
109. Surat Al-Kafirun
110. Surat An-Nashr
111. Surat Al-Lahab
112. Surat Al-Ikhlash
113. Surat Al-Falaq
114. Surat An-Nas

Sumber: www.audioislam.com

How to Make an Argument

10940546_1541569406094005_6674531639804951415_n

I thinks this is the important part of the research. How to build an argument. To build an argument it means you understand others works. First step of understanding is to now your interesting area keywords. As a result more reading gives batter understanding and strong argument.

Stop Procrastinating!!!

Procrastination Alert!!!, Stop Wasting time – 15 tips to beat it:
.
1. Know Yourself
2. Practice effective time management
3. Change your perspective
4. Commit to assignment
5. Work in productive environment
6. Be realistic
7. Self-talk positively
8. Un-schedule
9. Swiss-cheese task
10. Dont indulge fantasies
11. Plan for obstacles
12. Improve learning behaviour
13. Help yourself
14. Reward progress
15. Learn to forgive yourself
.
Nothing will be done, if you don’t do it!
.
Finished is BETTER than PERFECT!

14117926_655713524597965_6252638289274034511_n

14063892_655713531264631_1598980113701836396_n

14045625_655713571264627_110867126718546291_n

14064215_655713587931292_2080259480611257400_n

14100353_655713614597956_5827350658429303370_n

13906999_655713647931286_341953998709152480_n

14102719_655713661264618_3317162638678820633_n

14117970_655713697931281_7731128891501148564_n

14141504_655713701264614_2449341126783824209_n

14100450_655713731264611_3827067106810445415_n

14055080_655713771264607_3123163216526404993_n

14067678_655713791264605_1632654565033307385_n

14054234_655713807931270_5220206947705166769_n

14088408_655713821264602_8923612029715208023_n

14102474_655713844597933_3397545540030005600_n

14055066_655713894597928_5341232332075573196_n

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

How to Write an Introduction

10959478_429001770602476_4831475450335768739_n

1.Background

+ Like in any good Hollywood movie, the first task of the introduction is to set the scene, giving your paper a context and seeing how it fits in with previous research in the field.

+ Whilst not the only way, this section, comprising the first paragraphs of your introduction, can be based around a historical narrative, from the very first research in the field to the current day.

+ In many fields, this could make up an entire essay in itself, so you have to stick to relevant information.
.

2.Importance

+ This leads into the rationale behind the research, revealing whether it is building upon previous research, looking at something that everybody else has overlooked, or improving upon a previous research project that delivered unclear results.

+ This section can then flow into how you are going to fill the gap, laying out your objectives and methodology. You are trying to predict what impact your research will have if everything works as it should, and you ultimately reject the null hypothesis.

.
3.Limitations

+ The introduction is the place to highlight any weaknesses in the experiment from the start.

+ For example, an ideal experiment should have perfectly randomized samples, but there are many good reasons why this is not always possible. As long as you warn the reader about this, so that they are aware of the shortcomings, then they can easily judge the validity of the research.

+ This is much better than making them wait until you point it out in the discussion.
.
3.Assumptions

+ You should also point out any assumptions that you make about conditions during the research. You should set out your basic principles before embarking upon the experiment: any research will be built around some assumptions.

+ For example, if you were performing educational research, you may assume that all students at the same school are from a very similar socio-economic background, with randomization smoothing out any variables.
.
>>>Tips<<<

There are a few tips that can help you write a strong introduction, arousing interest and encouraging the reader to read the rest of your work.

a.Keep it Short
A long and rambling introduction will soon put people off and lose you marks. Stick closely to your outline for the paper, and structure your introduction in a similar way.
.
b.Define the Problem
The entire introduction should logically end at the research question and thesis statement or hypothesis. The reader, by the end of the introduction, should know exactly what you are trying to achieve with the paper. In addition, your conclusion and discussion will refer back to the introduction, and this is easier if you have a clearly defined problem.
.
c.Organization
As you write the paper, you may find that it goes in a slightly different direction than planned. In this case, go with the flow, but make sure that you adjust the introduction accordingly. Some people work entirely from an outline and then write the introduction as the last part of the process. This is fine if it works for you.
Once your introduction is complete, you can now think about attacking the rest of the paper.

Try To Look At the Bright Side Teposeliro sifate satrio, Nelongso sing dhadhi gegondelaning roso, Prihatin dhalaning mukti utomo