Sejarah Kerbau di Indonesia

Kerbau termasuk salah satu hewan peliharaan paling bernilai bagi masyarakat agraris di Asia khususnya Asia Tenggara, Asia Selatan dan China. Selain dipelihara sebagai ternak potong dan penghasil susu, Kerbau terutama digunakan untuk membajak sawah dan menarik gerobak. Bagi masyarakat nusantara seperti: Minangkabau, Batak, Jawa, Toraja dan Sumbawa, kerbau memiliki nilai sosial dan budaya yang penting.

Gambar 1. Kerbau rawa (swamp buffalo) di Asia Tenggara

Tergolong marga Bubalus, kerbau di Asia memiliki banyak spesies, diantaranya :

  • Bubalus bubalis, mencakup semua jenis kerbau liar di India (Arni) dan Asia Tenggara, kerbau sungai, kerbau rawa dan kerbau peliharaan modern.
  • Bubalus depressicornis, Anoa dataran rendah, Kerbau liar endemik Sulawesi
  • Bubalus quarlesi, Anoa dataran tinggi, kerbau liar endemik Sulawesi
  • Bubalus mindorensis, Tamaraw, kerbau liar endemik pulau Mindoro, Filipina
  • Bubalus mephistopheles, kerbau purba bertanduk pendek di China (punah).
  • Bubalus paleokerabau, kerbau purba bertanduk panjang di Jawa (punah).

Gambar 2. Kerbau Afrika Syncerus caffer.

Kerbau liar terutama tersebar di Afrika dan Asia. Kerbau Afrika Syncerus caffer umumnya hidup dengan menjelajahi padang rumput dan Sabana yang luas. Untuk menghadapi predator pemangsa seperti Singa, kerbau Afrika hidup berkelompok hingga puluhan ekor. Total jumlah populasi hewan ini di seluruh Afrika berkisar antara 800 ribu hingga satu juta ekor. Sebagian besar hidup di dalam Taman Nasional dan kawasan konservasi yang dilindungi.

Berdasarkan kerakter fisik dan sebaran alaminya, kerbau Afrika terbagi menjadi 5 sub-spesies. Syncerus caffer caffer adalah sub-spesies paling besar, paling banyak dan paling terkenal dengan daerah sebaran mencakup Afrika Selatan dan Timur. Kerbau ini paling sering terlihat di film-film dokumenter di televisi.

Sub-spesies terkecil, Syncerus caffer nanus ditemukan di hutan tropis Afrika yang lebat. Sub-spesies Syncerus caffer brachyceros hidup di Afrika barat dan tengah. Sedangkan Syncerus caffer aequinoctialis dan Syncerus caffer mathewsi hidup di Afrika bagian timur.

Gambar 3. Subspesies Kerbau Afrika: a. Syncerus caffer caffer, b. Syncerus caffer mathewsi , c. Syncerus caffer brachyceros, d. Syncerus caffer aequinoctialis dan e. Syncerus caffer nanus.

Kerbau Afrika tergolong fauna yang sangat berbahaya. Sifatnya sangat agresif dan tak dapat diduga sehingga hewan ini tidak pernah berhasil dijinakkan oleh manusia. Tubuh kerbau Afrika tergolong kekar dengan tinggi bahu antara 100-170 cm dan panjang 170-340 cm. Berat tubuh bervariasi tergantung sub-spesies. S. c nanus memiliki berat antara 250-450 kg. Sedangkan S. c caffer memiliki bobot  antara 450-1000 kg dengan berat rata-rata 750 kg.

Selain di Afrika, kerbau juga tersebar luas di Asia. Para ahli memperkirakan, garis kekerabatan kerbau Asia dan Afrika mulai memisah sejak 10 juta tahun yang lalu.

Berdasarkan sebaran alaminya, kerbau ternak bukan termasuk hewan asli Indonesia. Para ahli menduga, kerbau-kerbau ini berasal dari domestikasi kerbau liar penghuni rawa-rawa basah di Utara India/Nepal dan utara Thailand/Vietnam. Hasil riset arkeologi dan genetik menunjukkan bahwa kerbau telah dijinakkan sejak 5000 tahun yang lalu.

Secara umum, kerbau ternak/peliharaan dibagi menjadi dua golongan, yaitu: Kerbau Sungai (river buffalo) dan Kerbau Rawa (swamp buffalo). Kerbau Sungai mencakup jenis-jenis kerbau penghasil susu seperti: varietas Banni, Bhadawari, Chilika, Jaffarabadi, Kalahandi, Marathwadi, Mehsana, Murrah, Nagpuri, Nili-Ravi, Pandharpuri, Surti dan Toda. Sebaliknya, kerbau rawa tidak menunjukkan perbedaan varietas yang jelas.

Gambar 4. Kerbau Asia dan Afrika: a. Kerbau Afrika Syncerus caffer, b. Kerbau liar India (Arni) Bubalus bubalis arnee, c.Kerbau Sumbawa Bubalus bubalis kerabau dan d. Kerbau Murrah (kerbau sungai) Bubalus bubalis bubalis (penamaan menurut ITIS 2017).

Sebagian besar populasi kerbau sungai terdapat di India. Kerbau ini kemudian menyebar ke Asia Barat, Afrika Timur hingga Turki, Eropa Barat, Eropa selatan dan wilayah Balkan. Kerbau sungai umumnya hidup dengan berendam dan mencari makan pada lahan-lahan basah di sekitar sungai-sungai besar di India dan Pakistan.

Kerbau sungai  berhasil dikembangkan di Eropa khususnya Italia. Kerbau ini lebih dikenal sebagai  varietas Mediterranea. Tipe kerbau perah ini dipelihara untuk menghasilkan susu yang menjadi bahan baku pembuatan keju Mozzarella yang tersohor. Di Indonesia, mozzarella populer sebagai salah satu bahan untuk membuat kue dan pizza.

Berbeda dengan kerbau sungai, kerbau rawa dipelihara untuk membajak sawah, menggiling tebu dan menarik gerobak. Selain itu, kerbau rawa juga berperan sebagai ternak potong dan kerap menjadi hewan yang dikorbankan dalam upacara adat atau ritual keagamaan. Kadang-kadang kerbau rawa dipelihara untuk diambil susunya.

Di masa lalu, kepemilikan kerbau rawa kerap dijadikan sebagai penanda status sosial dan juga digunakan sebagai mahar dalam pernikahan. Hal ini dapat ditemukan di pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara. Bahkan, beberapa daerah seperti di Seko, Luwu Utara  (Sulawesi Selatan), menggunakan kerbau sebagai alat pembayaran denda, jika seseorang melakukan pelanggaran berat terhadap hukum adat setempat.

Gambar 5. Arni Bubalus bubalis arnee, kerbau liar India utara yang diduga kuat menjadi tetua kerbau peliharaan di Asia tenggara.

Kerbau rawa tersebar mulai dari India, China hingga seluruh wilayah Asia Tenggara. Kerbau ini bahkan menjadi hewan feral (hewan peliharaan yang lepas dan menjadi liar) di Australia utara dengan populasi hingga mencapai 150-200 ribu ekor. Kerbau ini dulunya didatangkan sebagai kerbau peliharaan dari Pulau Timor dan Pulau Kisar.

Meskipun sangat dikenal, para ahli belum mencapai kesepakatan terkait status taksonomi kerbau. Asal usul dan hubungan kekerabatan antara kerbau sungai, kerbau rawa dan kerbau liar India masih menjadi perdebatan dan kontroversi meski kajian hingga taraf DNA telah dilakukan.

Oleh ITIS, Integrated Taxonomic Information System (sebuah lembaga yang memiliki otoritas dalam menilai validitas nama ilmiah suatu spesies flora/fauna) saat ini dikenal 5 jenis kerbau di bawah marga Bubalus. Tiga spesies diantaranya tergolong jenis kerbau kerdil liar yang telah mendapat status sebagai spesies penuh (full species), yaitu: Anoa dataran rendah Bubalus depressicornis, Anoa dataran tinggi Bubalus quarlesi dan Tamaraw (sejenis kerbau kerdil dari pulau Mindoro Filipina) Bubalus mindorensis.

Kerbau purba China yang telah punah Bubalus mephistopheles juga mendapat status spesies secara penuh. Sedangkan kerbau liar India (Arni) yang diduga menjadi nenek moyang kerbau peliharaan dan semua jenis kerbau ternak termasuk kerbau sungai dan kerbau rawa, digolongkan dalam satu spesies, yaitu: Bubalus bubalis.

Selanjutnya, oleh ITIS, spesies Bubalus bubalis dibagi menjadi 6 sub-spesies, yaitu:

  • Bubalus bubalis arnee (Kerr, 1792), Kerbau Arni, jenis kerbau liar di India utara, Nepal, Bhutan
  • Bubalus bubalis bubalis (Linnaeus, 1792) kerbau sungai (tipe kerbau perah penghasil susu)
  • Bubalus bubalis fulvus (Blanford, 1891) kerbau liar di daerah Assam, India
  • Bubalus bubalis kerabau (Fitzinger, 1860) kerbau rawa, kerbau feral di Jawa dan Australia Utara
  • Bubalus bubalis migona (Deraniyagala, 1952) kerbau liar di Sri Lanka
  • Bubalus bubalis theerapati (Groves, 1996) kerbau liar di Thailand, Vietnam, Laos dan Kamboja.

Gambar 6. Kerbau Murrah penghasil susu termasuk jenis kerbau sungai (river buffalo).

Tidak semua peneliti setuju dengan penggolongan kerbau oleh ITIS. Tanaka et al. (1996), misalnya, menyatakan bahwa kerbau liar India (Bubalus bubalis arnee), kerbau sungai (Bubalus bubalis bubalis) dan kerbau rawa (Bubalus bubalis kerabau) memiliki perbedaan yang signifikan sehingga masing-masing layak ditetapkan secara penuh sebagai spesies tersendiri.

Hal tersebut dinyatakan oleh Tanaka setelah melihat hasil analisis urutan DNA gen sitokrom b pada seluruh anggota marga Bubalus. Dengan demikian, nama ilmiah untuk kerbau liar India seharusnya menjadi Bubalus arnee, kerbau sungai Bubalus bubalis dan kerbau rawa Bubalus kerabau.

Kierstein et al. (2004) dan Zhang et al. (2011), menyatakan bahwa dari hasil analisis D-loop Mitokondria terhadap kerbau peliharaan, diperoleh kesimpulan bahwa domestikasi dan budidaya kerbau sungai dan kerbau rawa terjadi pada lokasi dan waktu yang berbeda.

Jumlah kromosom yang berbeda juga menunjukkan bahwa nenek moyang kerbau rawa dan kerbau sungai berasal dari dua spesies yang berbeda. Nenek moyang kerbau rawa diduga berasal dari kerbau Arni. Sedangkan nenek moyang kerbau sungai yang juga diperkirakan hidup di India, tidak diketahui.

Domestikasi kerbau sungai diperkirakan berlangsung terlebih dahulu di India utara sekitar 6000-5000 tahun yang lalu. Sedangkan domestikasi kerbau rawa dilakukan belakangan di sekitar daerah perbatasan antara China selatan dan  Vietnam utara sekitar 4000-5000 tahun yang lalu (Wang et al. 2017).

Kerbau rawa yang telah dijinakkan di Vietnam utara tersebut selanjutnya tersebar luas dan masuk ke Indonesia seiring masuknya gelombang migrasi manusia ke nusantara. Kerbau rawa masuk ke Indonesia melalui dua jalur. Pertama melalui jalur: Vietnam, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Nusa Tenggara. Jalur kedua melalui China, Taiwan, Filipina dan Kalimantan (Wang et al. 2017).

Di Indonesia, kerbau-kerbau rawa tersebut kemudian berkembang sesuai iklim dan kondisi setempat. Beberapa diantaranya membentuk varietas kerbau lokal seperti: Kerbau Toraja (Sulawesi Selatan), Kerbau Kalang (Kaltim dan Kalsel), Kerbau Moa (Maluku Barat Daya), Kerbau Pampangan (Sumatera Selatan), Kerbau Tapanuli Utara (Sumatera Utara), Kerbau Badegur (Banten) dan Kerbau Sumbawa (NTB).

Gambar 7. Kerbau rawa (swamp buffalo) lokal di Indonesia: a. Kerbau Kalang, b. Kerbau Toraja, c. Kerbau Tapanuli Utara, d. Kerbau Sumbawa.

Sebagian besar (95%) populasi kerbau ternak di Indonesia termasuk jenis kerbau rawa. Sedangkan sisanya, tergolong kerbau sungai yang banyak dipelihara oleh masyarakat keturunan India di Sumatera Utara. Kerbau perah ini umumnya berasal dari varietas Murrah yang menghasilkan banyak susu.

Dengan demikian, sebagian besar populasi kerbau yang ada di Indonesia saat ini, termasuk kerbau liar di Taman Nasional Ujung Kulon dan Baluran berasal dari kerbau rawa yang dijinakkan di Vietnam Utara/China selatan sekitar 5000 tahun yang lalu.

Referensi:

Kierstein, Gerold, Marcelo Vallinoto, Arthur Silva, Maria Paula Schneider, Leopoldo Iannuzzi and Bertram Benig. 2004. Analysis of Mitochondrial D-loop region casts new light on domestic water buffalo (Bubalus bubalis) phylogeny. Molecular Phylogenetics Evolution. 30 (2004): 308-324.

Wang, N. Chen, M. R. Capodiferro, T. Zhang, H. Lancion, H. Zhang, Y. Miao, V. Chanthakhoun, M. Wanapat, M. Yindee, Y. Zhang, H. Lu, L. Caporali, R. Dang, Y. Huang, X. Lan, M. Plath, H. Chen, J. A. Lenstra, A. Achilli and C. Lei. 2017. Whole mitogenomes reveal the history of swamp buffalo: initially shape by glacial periods and eventually modeled by domestication. Sientific Reports. 7: 4708.

Tanaka, Kzuaki, Chester D. Solis, Joseph S. Masangkay, Kei-ichiro Maeda, Yoshi Kawamoto and Takao Namikawa. 1996. Phylogenetic relationship among all living species of the genus Bubalus based on DNA sequences of the cytochrome b gene. Biochemical Genetics. Vol 34. Nos. 11/12-1996.

Zhang, Y., D. Vankan, Y. Zhang and J.S.F. Barker. 2011. Genetic differentiation of water buffalo (Bubalus bubalis) population in China, Nepal and southeast Asia: interferences on region of domestication of swamp buffalo. Animal Genetics, 42: 366-377.

Source : repost from cakrawala

Perbedaan kerbau rawa dan kerbau sungai

Kerbau rawa dan kerbau sungai dapat dibedakan dari berbagai faktor mulai dari karakter fisik, genetik hingga perilaku dan habitat. Adapun perbedaan kerbau rawa dan kerbau sungai dapat dilihat pada tulisan di bawah ini. Selamat membaca.

Tetua

Kerbau rawa (Bubalus kerabau) dan kerbau sungai (Bubalus bubalis) berasal dari nenek moyang berbeda. Kerbau rawa diyakini berasal dari populasi kerbau Arni (Bubalus arnee) yang dulunya hidup di China selatan dan Vietnam Utara. Sebaliknya, kerbau sungai berasal dari spesies misterius yang belum diketahui di India.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Kerbau Arni di Taman Nasional Kaziranga India Utara. Tampak kerbau betina (kiri atas dan kanan bawah) serta kerbau jantan (kanan atas dan kiri bawah).

Domestikasi

Kerbau Arni mulai didomestikasi terlebih dahulu di India sekitar 5000 tahun yang lalu. Sedangkan kerbau rawa baru dijinakkan belakanagan sekitar 4000 tahun yang lalu di Vietnam Utara dan China selatan.

Warna tubuh

Kerbau rawa memiliki warna tubuh lebih bervariasi dibandingkan kerbau sungai. Variasi warna kerbau rawa mulai dari abu-abu, abu-abu kehitaman, abu-abu gelap, abu-abu kemerahan hingga belang hitam putih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Variasi warna dan postur tubuh kerbau rawa di Indonesia. Perhatikan garis kalung pada bagian leher/dada atas dan warna terang pada bagian kaki.

Garis kalung (chevron) berbentuk bulan sabit dan berwarna kemerahan umumnya ditemukan pada kerbau rawa, Jumlah garis kalung bervariasi antar individu berkisar antara 1-3 garis. Garis kalung tidak ditemukan pada kerbau sungai.

Kerbau sungai umumnya memiliki warna lebih gelap dan lebih mengkilap dibandingkan kerbau rawa. Variasi warna kerbau sungai mulai dari hitam mengkilap, abu-abu gelap, coklat, abu-abu dan belang hitam putih. Warna coklat tidak ditemukan pada kerbau rawa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3. Kerbau Murrah, varietas kerbau sungai yang banyak dibudidayakan di India. Perhatikan warna tubuh yang lebih hitam mengkilap dan kantung susu yang besar.

Warna terang mulai dari sekitar lutut hingga kuku (seperti kaos kaki) umum ditemukan  pada kerbau rawa. Sedangkan pada kerbau sungai jarang ditemukan.

Bentuk Tanduk

Salah satu cara paling mudah membedakan kerbau Arni, kerbau rawa dan kerbau sungai adalah dengan melihat bentuk tanduknya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. Bentuk tanduk kerbau Arni betina menyerupai bulan sabit (Atas dan kanan bawah). Tanduk pejantan berbentuk segitiga (kiri bawah).

Kerbau Arni memiliki tanduk yang sangat panjang. Tanduk betina umumnya melengkung ke belakang membentuk formasi bulat sabit yang indah. Bentuk tanduk inilah yang menjadi ciri utama dari kerbau Arni yang membedakannya dari kerbau peliharaan.

Tanduk kerbau Arni jantan umumnya lebih pendek, namun lebih besar dan tebal. Bentuk tanduk melengkung menyerupai segitiga. Tanduk dengan bentuk seperti ini sangat berbahaya dan berpotensi menimbulkan luka yang parah jika digunakan untuk bertarung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 5. Variasi bentuk tanduk kerbau rawa di Toraja Sulawesi Selatan.

Tanduk kerbau rawa umumnya berbentuk bulat sabit, tumbuh memanjang dan melengkung ke belakang dengan berbagai variasi. Pada kerbau sungai, tanduk tumbuh menyamping di sisi kepala, cenderung keriting dan tidak berkembang dengan baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 6. Bentuk tanduk kerbau sungai. Kerbau Jaffarabadi (kiri atas), Murrah (kanan) dan Pandharpuri (kiri bawah).

Bentuk tubuh

Berbeda dengan tetuanya, kerbau Arni yang lebih atletis, kerbau rawa bertubuh gempal dengan bagian perut cenderung membesar dan membulat. Sebaliknya, kerbau sungai memiliki bentuk tubuh memanjang seperti sapi-sapi Eropa dengan garis punggung lurus.

Kepala kerbau sungai berbentuk memanjang dan ramping. Sedangkan kepala kerbau rawa lebih pendek dan membulat.

Ukuran dan Bobot Tubuh

Kerbau sungai umumnya memiliki postur lebih besar dibanding kerbau rawa dengan panjang rata-rata 140-150 cm dan rata-rata tinggi bahu 130-160 cm. Panjang rata-rata kerbau rawa berkisar antara 120-140 cm dan tinggi bahu rata-rata berkisar antara 125-150 cm.

Bobot tubuh kerbau sungai juga lebih tinggi dibandingkan kerbau rawa. Bobot kerbau sungai jantan bervariasi antara 500-800 kg dan betina 450-750 kg. Sebaliknya, bobot kerbau rawa jantan berkisar antara 300-650 kg dan betina antara 300-600 kg.

Habitat

Sebagaimana kerbau Arni, kerbau rawa hidup di hutan rawa basah. Di Indonesia, kerbau rawa hidup pada habitat bervariasi mulai dari daerah tepian pantai, tepi sungai dan muara, rawa dan danau, padang sabana, padang rumput yang kering, hutan tropis hingga daerah pegunungan tinggi seperti Toraja.  Sedangkan, kerbau Arni hidup di sekitar sungai-sungai yang ditumbuhi banyak vegetasi.

Perilaku

Kerbau sungai dahulunya mempunyai kebiasaan berendam dan mencari makan di sekitar sungai-sungai di India. Oleh karenanya, kerbau perah ini digolongkan ke dalam kelompok kerbau sungai (river buffalo).

Sebaliknya, kerbau rawa kerap berkubang di rawa-rawa berlumpur untuk melindungi kulit dari gigitan serangga dan teriknya matahari. Oleh sebab itu, kerbau pekerja ini digolongkan ke dalam kelompok kerbau rawa (swamp buffalo).

Daerah Sebaran

Kerbau sungai pertama kali didomestikasi di India. Kerbau ini kemudian menyebar ke arah barat hingga mencapai Asia barat, Afrika timur, Persia, Turki hingga kawasan Mediterranea. Kerbau sungai kemudian diintroduksi ke Australia dan Amerika selatan seperti Brazil dan Argentina.

Sebaliknya, kerbau rawa pertama kali dijinakkan di Vietnam utara dan China selatan. Kerbau ini kemudian tersebar ke seluruh Asia. Di Asia Tenggara, kerbau rawa tersebar melalui dua jalur sebelum mencapai Indonesia. Jalur pertama melalui Vietnam, Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara. Jalur kedua melalui Vietnam, Cina, Taiwan, Filipina, Kalimantan dan Sulawesi.

Kerbau dari Pulau Kisar di Nusa Tenggara Timur (sebelah utara Timor Leste), kemudian di introduksi ke Australia Utara dan menjadi hewan feral dengan populasi hingga lebih dari 100.000 ekor.

Genetik

Secara genetik, kerbau sungai dan kerbau memiliki jumlah kromosom yang berbeda. Kerbau sungai memiliki 25 pasang kromosom, sedangkan kerbau rawa memiliki 24 pasang kromosom. Pada sapi, jumlah kromosomnya sebanyak 30 pasang.

Hasil analisis sitokrom gen B menunjukkan, bahwa kerbau rawa dan kerbau sungai berasal dari dua populasi berbeda. Jarak genetik kerbau rawa dan kerbau sungai begitu jauh dan keduanya diperkirakan mulai berpisah sejak 1,7 juta tahun yang lalu. Berdasarkan hal tersebut, taksonomi kerbau harus direvisi dan kedua kerbau ini layak ditetapkan sebagai dua spesies terpisah.

Berkaitan dengan faktor genetik, salah satu masalah terjadi pada kerbau Arni di India yang mulai langka. Peneliti genetika satwa liar menduga sebagian besar populasi kerbau ini telah terkontaminasi oleh polusi genetik akibat kawin campur dengan kerbau feral atau kerbau peliharaan. Akibatnya, individu kerbau dengan kandungan genetik murni sulit ditemukan. Saat ini, kerbau Arni dikategorikan terancam punah oleh IUCN. Populasinya di alam liar hanya sekitar 4000 ekor.

Varietas

Dilihat dari ciri fisiknya, membedakan varietas/ras kerbau sungai lebih mudah dibandingkan dengan membedakan varietas kerbau rawa. Sebagai contoh, kita akan lebih mudah mengenali mana kerbau Murrah dan mana kerbau Jaffarabadi dibandingkan dengan membedakan antara kerbau Sumatera Utara dengan Sumatera barat.

Saat ini dikenal total sebanyak 22 varietas kerbau sungai. Pada varietas Murrah, Nili Ravi, Pandharpuri, Godawari, Jaffarabadi, Godavari dan Mehsana, postur tubuh dan warna kulitnya lebih menyerupai sapi-sapi Eropa dibandingkan dengan kerbau Arni. Sapi dari ras ini umumnya memiliki warna kulit hitam mengkilat hingga seluruh tubuh. Ekor juga lebih panjang dibandingkan dengan kerbau rawa.

Kerbau Nagpuri, Badhawari, Surti memiliki warna tubuh menyerupai kerbau rawa. Sedangkan kerbau Toda menyerupai kerbau Arni dari postur, bentuk tanduk dan karakternya yang temperamental. Toda merupakan ras kerbau sungai tertua di India.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 7. Beberapa contoh varietas kerbau sungai. Jaffarabadi (kiri atas), Murrah (kanan atas), Surti (kiri bawah) dan Pandharpuri (kanan bawah).

Menurut Domestic Animal Diversity Information System (DAD-IS) yang dirilis FAO, kerbau rawa di Indonesia tercatat sebanyak 13 varietas, yaitu: kerbau Gayo, Jawa, Kalang Kalsel, Kalang Kaltim, Kuntu, Moa, Pampangan, Simeulue, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Sumbawa dan Toraya. Jumlah total varietas kerbau rawa di seluuruh dunia belum diketahui dengan pasti. China setidaknya memiliki 16 varietas kerbau rawa.

Diantara sepuluh ras kerbau sungai di India, Jaffarabadi memiliki tampilan yang paling berbeda. Ukuran kepala kerbau ini tampak sangat besar dibanding ras lain. Tanduk juga sangat besar dan tebal yang tumbuh menjuntai di sisi kepala.

Fakta menarik diungkap oleh Indian National Scientific Documentation Centerterkait bentuk kepala yang unik dari kerbau Jaffarabadi. Menurut lembaga tersebut, Kerbau Jaffarabadi merupakan hasil kawin silang antara kerbau Afrika Syncerus caffer dengan kerbau India.

Kerbau Afrika tersebut dibawa ke India oleh pemerintah kolonial Inggris sebagai hewan potong. Kerbau Afrika ini disilangkan dengan kerbau India kemungkinan untuk menghasilkan turunan yang lebih besar dan menghilangkan sifat agresif dari kerbau Afrika. Salah satu efek samping yang timbul dari kawin silang antar spesies ini adalah rendahnya kualitas semen pejantan Jaffarabadi dibandingkan ras kerbau sungai lainnya.

Kegunaan

Kerbau sungai dijinakkan dan dipelihara terutama untuk diambil susunya. Oleh sebab itu, kerbau ini sering disebut kerbau perah. Produksi susu kerbau sungai dapat bervariasi berkisar antara 6-8 liter per hari. Selain diminum, susu kerbau juga diolah menjadi keju.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 8. Kerbau Murrah jenis kerbau sungai yang terkenal karena produksi susunya yang tinggi.

Salah satu produk keju dari susu kerbau yang paling dikenal adalah keju Mozzarella. Keju ini sering dipakai dalam pembuatan pizza, roti dan kue. Beberapa daerah di Indonesia juga membuat makanan olahan dari susu kerbau, diantaranya adalah Dadiah di Sumatera Barat, Dali di Sumatera Utara dan Dangke di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.

Kerbau rawa dahulunya dijinakkan menjadi hewan pekerja untuk membantu membajak sawah, memutar mesin penggilingan tebu atau menarik gerobak. Kerbau rawa juga dipelihara sebagai ternak potong dan diambil susunya. Produksi susu kerbau rawa lebih rendah dibanding kerbau sungai, berkisar antara 1-1,5 liter per hari.

Demikian perbedaan kerbau rawa dan kerbau sungai. Semoga bermanfaat.

Source: repost from